Yapono/Yaponno/Apono” adalah kata Portogis yang artinya: Pulau yang senantiasa berkabut. Pulau yang dimaksud adalah pulau Yapono yang sehari-harinya berkabut, kalau paginya tidak berkabut maka sorenya pasti berkabut; kalau pagi berkabut mungkin sorenya tidak atau sehari semalam berkabut jika musim Timur (sekitar bulan Juni-September).

Jika orang Seram ditanya: “Mau pergi kemana?” Lantas jawabnya: “Akai Yapono”, berarti itu pergi ke pulau/kota Yapono. Jika orang Sori-sori Islam atau orang dari pulau Saparua ditanya, “Mau pergi kemana?”, lantas dia jawab: “Huwa Ponno koiii”, itu artinya pergi ke pulau/kota Yapono.

Nah apakah gerangan pulau/kota yang selalu berkabut yang dinyatakan dalam bahasa Portogis dengan “Yapono” yang kemudian menjadi Fam (marga) bagi salah satu rumah tau di Desa Laimu dan Desa Haya (Kecamatan Tehoru), Desa Haria, Nolot(?) di Lease, dll di Maluku Tengah/Kota Madya Ambon? Juga ada yang hijrah ke Maluku Utara, Papua dan di Jawa, dll.? Itulah nama Portogis bagi Pulau/Kota Ambon. Akaii Yapono/Huwa Ponno artinya Pulau/kota Ambon.

Lantas apakah orang-orang/rumah tau yang memakai nama ini berasal dari Portogis? Ternyata tidak, mereka justru berasal dari Negeri Arab yang membawa Islam ke pulau-pulau rempah (maluku) ini melalui perniagaan. Ketika mereka menetap di Kerajaan Ulupalu (di Iha (Saparua/Haruku?) dan Hitu (Pulau Yapono) mereka dikejar-kejar oleh Portogis kemudian Belanda, akhirnya mereka hijrah ke pulau Seram atau ke pulau lainnya. Ketika ini mereka menyembunyikan identitas asli mereka dengan diganti marga “Yapono” yang berarti datang dari Yapono (Pulau Ambon) agar mereka tidak dilacak oleh Penjajah. Walupun demikian mereka memiliki “hokalo” (tempat keluar) dan kapata (janji keluarga), yaitu: Pakalesi dan Tumbesi. Dengan hokalo dan kapata ini, semua orang yang memiliki hokalo dan kapata yang sama, yaitu: Pakalesi dan Tumbesi, berarti mereka berasal dari satu rumah tau, meskipun famnya nanti berlain-lainan. Maka ditemukan Boiratan dan Latan di Seram; Pattiiha di Iha, Silawane di Tehoru, dll marga bersama Yapono meliki hokalo dan kapata yg sama.

Keterangan ini saya dapat dari Almarhumah Kakak Hajjah Rahana Kumkelo yang ibunya berasal dari Marga Yapono; dan kakak Hajjah Rahana mendengarnya dari almarhum tete Abdurrahim yapono, yaitu kakek penulis (Dr. Abdurrahim Yapono) dan kakek Husain Yapono. Sekian.

Keterangan tentang sejarah “Yapono” itu perlu dicross check keberbagai marga itu; atau memerlukan penelitian sejarah guna membuktikan kebenarannya karena tidak ada dokumen tertulis yang dapat dipercaya. Ini hanya dari semacam wasiat turun temurun. Silsilah Yapono ada di Laimu dan juga sebagian di Dr. H. Abdurrahim Yapono.